Jumat, 23 Juni 2017

Petambak Kendari Datangkan Bibit Udang Dari Takalar

id udang-vaname
Petambak Kendari Datangkan Bibit Udang Dari Takalar
Suwondo Wijaya, petani sekaligus pelaku usaha tambak udang Vaneme di Kendari. (foto Antara/Azis Senong)
Kendari, Antara Sultra - Petambak bibit udang (benur) di sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara terpaksa harus mendatangkan bibit udang jenis vaname dari Takalar (Sulawesi Selatan) karena adanya kelangkaan di provinsi ini.

Salah seorang petani dan pengusaha tambak udang vaname (Penaeus vannamei), Suwondo Wijaya di Kendari, Jumat mengatakaan, pemenuhan bibit udang vaname maupun udang windu, sebanarya biasa dicukupi di pesisir pantai di Bombana dan Kolaka, namun masih jarang petani dan nelayan yang membudayakan secara kontinyu sehingg mau tidak mau harus mendatangkan dari luar daerah.

"Masalah harga bibit udang vaname bervariasi sesuai dengan tingkatan umur harinya bibit tersebut. Untuk umur 7- 8 hari dibeli dengan harga Rp50 - Rp55 per ekor, sedangkan bila usia di atas 10 hari masa bibit dibeli dengan harga Rp60 - Rp75 per ekor," katanya.

Proses pembudidayaan bibiot udang yang dibeli itu, lanjut Suwondo, begitu tiba di lokasi petambak tidak langsung di tebar tetapi harus disimpan dalam wadah atau lokasi khusus.

"Proses pemeliharaan udang vaname, juga sedikit lebih ringan ketimbang membudidayakan dengan udang windu atau udang sitto yang rentang terhadap penyakit yang sering menyerang pada usia-usia tertentu," ujanya.

Udang vaname yang dikenal sebagai komoditas budidaya air payau, harganya jauh lebih rendah dibanding udang sitto, tetapi petani saat ini justru banyak yang senang untuk membudidayakan hingga proses panen dengan harga yang terjangkau.

"Saat ini, pasaran udang vaname dengan ukuran 30-35 ekor dalam satu kilogram bisa mencapai Rp70.000-Rp75.000 atau sedikit lebih baik dibanding dengan tahun sebelumnya dengan kisaran Rp50.000-Rp55.000 per kilogram," ujar Suwonda menambahkan sedangkan udang sitto mencapai ratusan ribu per kilogram tergantung dari besar dan kecilnya.

Hasil produksi udang yang dihasilkan selama ini, lebih mendominasi ke pasan dalam negeri yakni diantarpulaukan ke Surabaya dan Makassar, dan sisanya untuk pasaran lokal.

"Harapan petani, agar pemerintah bisa secepatnya memikirkan budidaya udang vaname, yang tidak lagi harus bergantung dari luar provinsi. Dana secara ekonomis bisa mengurangi biaya pengiriman saat harus membeli dari luar daerah," ujarnya berharap.

Editor: Hernawan Wahyudono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga