Rabu, 18 Oktober 2017

Menjaga Kebhinekaan Dengan Pancasila Sebagai Harga Mati

id apel
Menjaga Kebhinekaan Dengan Pancasila Sebagai Harga Mati
Sejumlah santri bersama prajurit menaiki kendaraan taktis TNI AD saat pawai Nusantara Bersatu di Serang, Banten, Rabu (30/11). Pawai yang diikuti berbagai elemen masyarakat itu mengajak semua kalangan untuk menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
         Jakarta (Antara News) - Seluruh warga Indonesia wajib menjaga kebhinnekaan dan mengikatnya dengan Pancasila, karena negara ini  terbangun atas keberagaman suku, budaya, agama, dan tidak bisa dibawa ke kanan atau ke kiri.

         "Negeri ini terbangun atas keberagaman suku, budaya, agama, artinya kebhinnekaan tapi harus diikat menjadi satu berarti tunggal ika. Pengikatnya adalah Pancasila," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Jakarta, Rabu saat Apel Nasional Nusantara Bersatu Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita digelar untuk mengukuhkan kembali semangat persatuan bangsa.

         Apel Nusantara Bersatu diinisiasi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, digelar serentak di seluruh Indonesia sebagai upaya memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

         Untuk di Jakarta, apel dipusatkan di Silang Monas. Apel itu sendiri dibuka oleh penampilan marching band dari Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan disusul tari Reog Ponorogo, ondel-ondel dan tarian Betawi.

         Sebagai pengikat ketunggalikaan, Pancasila tidak bisa dibawa ke kanan atau ke kiri.  Kebebasan berekspresi tetap harus diberi ruang, tapi ruang berekspresi tetap untuk membangun ketunggalikaan kita dalam ikatan Pancasila. Kegiatan Nusantara Bersatu yang diisi orasi kebangsaan dari berbagai elemen, serta atraksi kesenian dari sejumlah daerah yang beragam dan dihadiri ribuan orang mengingatkan kembali akan keberagaman Indonesia.

         Apel tersebut dihadiri sejumlah tokoh, selain Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono, sesepuh ormas Islam Majelis Rasulullah SAW Jakarta Pusat Habib Nabil,  tokoh perempuan Yenni Wahid, Ketua Umum AMPI Dito Ariotedjo dan Ketua MUI Jawa Tengah Habib M Lutfi bin Ali Yahya.

    
                                        Suhu Politik     
        Akhir-akhir ini suhu politik meningkat menjelang pilkada serentak dengan berbagai dinamika yang menyertainya, seperti adanya isu penistaan agama yang berpotensi membelah bangsa. Maraknya demonstrasi mulai dari pusat sampai ke daerah juga berakibat terjadinya degradasi rasa cinta Tanah Air serta rasa persatuan dan kesatuan bangsa di kalangan masyarakat.

        Terkait hal itu, Gatot Nurmantyo mengapresiasi partisipasi masyarakat pada apel tersebut yang diikuti ribuan pelajar, PNS, TNI dan organisasi massa, pemuda dan tokoh agama, mengkampanyekan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

        "Saya ucapkan terima kasih kepada pelajar, pemuda tokoh agama, dan ormas yang ikut acara ini. Dari Sabang sampai Merauke, semua lakukan hal sama," tegas Gatot.  

        Semangat persatuan harus terus dijaga oleh seluruh anak bangsa. Sebab, majunya Indonesia tergantung kepada persatuan seluruh elemen bangsa. "Jangan biarkan Ibu Pertiwi menangis. Kita semua punya mimpi Indonesia menjadi bangsa besar dan bangsa makmur," kata jenderal bintang empat ini.

         Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengajak seluruh warga bangsa untuk tetap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan segala kebhinnekaan dan perbedaan. "Perbedaan menjadi kekuatan bagi kita, bukan untuk menjadi pemecah," kata Kapolri.

         Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke adalah bersaudara, maka perlu untuk terus mempererat dan mempertahankan NKRI serta persaudaraan. Polri mendukung Nusantara Bersatu yang diinisiasi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, karena dia meyakini bahwa hanya dengan bersatu yang akan mempertahankan NKRI.

         "Kegiatan ini diselenggarakan di semua jajaran di seluruh Indonesia, di jajaran TNI dan didukung Polri. Untuk itu kita mohon doa kepada seluruh bangsa Indonesia agar kita semua bisa tetap menjaga NKRI," kata Tito. Kapolri beserta Panglima TNI tampak mengikat kepala mereka dengan pita merah putih seperti peserta lainnya.

         Apel Nusantara Bersatu digagas oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan maksud meneguhkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Kegiatan yang melibatkan tokoh agama, pelajar, mahasiswa, musisi, pemuda, budayawan, organisasi masyarakat dan komponen bangsa lainnya diharapkan dapat menanamkan rasa cinta Tanah Air.

         Sekitar 40.000 orang hadir dalam acara tersebut, setiap peserta ditandai dengan pita merah putih yang diikatkan di kepala.

         Hadir pula pada acara tersebut para kepala staf angkatan, Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana dan sejumlah pejabat Polri.  Selain itu  juga sesepuh ormas Islam Majelis Rasulullah SAW Jakarta Pusat Habib Nabil, Ketua Umum AMPI Dito Ariotedjo dan Ketua MUI Jawa Tengah Habib M Lutfi bin Ali Yahya.

         Seluruh lapisan masyarakat Indonesia merasa takjub ketika menghadiri acara Apel Nusantara Bersatu, karena mereka merasakan betapa eratnya persatuan dan kesatuan berbagai kelompok yang berbeda.  

         Sejak pagi, warga ibukota pun nampak antusias untuk menghadiri di Monumen Nasional (Monas). Para pedagang gerobak dorong pun ikut mengenakan pita merah putih yang diikat di kepala.

         "Yang saya rasakan acara yang luar biasa ini tentang kebersamaan sebangsa dan se-Tanah Air, dan persatuan seluruh lapisan masyarakat, sehingga saya sampai merinding melihatnya," kata seorang anggota Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Danti Sitohang, yang merupakan warga Jakarta.

         Pada acara tersebut nampak anggota Forum Komunikasi Putra/Putri Purnawirawan TNI-Polri dan anggota TNI-Polri Indonesia (FKPPI), Prajurit TNI-Polri, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan swasta termasuk Artha Graha Group, ibu-ibu PKK, anggota Bhayangkari, para pelajar SD-SMP-SMA sederajat se-Jabodetabek.

         Seorang peserta acara tersebut, Tia Damailastuti, menyatakan hadirnya berbagai kelompok masyarakat dalam acara ini benar-benar membuktikan Bhineka Tunggal Ikanya bangsa Indonesia. Hal senada diungkap pula Ipid Waluyo yang datang ke Monas. Katanya,  acara ini bagus. Acaran ya pun menarik, ada suguhan kesenian dan tarian dari berbagai daerah seperti tari Yapong.  Beberapa ondel-ondel pun ditampilkan dalam acara tersebut.

         Selain orasi kebangsaan, acara juga dimeriahkan berbagai atraksi kesenian dari sejumlah daerah yang menunjukkan keberagaman Indonesia. Acara diakhiri oleh penampilan band Slank. Lagu yang mereka tampilkan antara lain Mars Slankers. Para pecinta kelompok musik Slank yang biasa disebut Slankers berbondong-bondong ikut memeriahkan acara ini dengan membawa bendera berlambang Slank. Para pengujung acara ini ikut bernyanyi bersama Slank sambil berloncat-loncat.   
 
         Sekali lagi, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengajak seluruh anak bangsa bersama-sama berjuang mengisi kemerdekaan dan bergandengan tangan hanya untuk NKRI.

         Ia menyarankan anak bangsa jika ingin berbuat sesuatu jangan ragu-ragu, untuk datang ke Taman Makam Pahlawan (TMP). "Bercerminlah' kepada para pahlawan, mereka tidak menuntut apa-apa bahkan ada yang makamnya tidak bernama, tapi mereka berbuat untuk kita sekarang yang ada di sini," kata Panglima.  
 
         "Kita menamakan Tanah Air kita Ibu Pertiwi, jangan biarkan Ibu Pertiwi menangis tapi buat agar tersenyum. Kita semua punya mimpi Indonesia bangsa yang besar, bangsa yang makmur karena itu anugerah Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

          Tentu saja pernyataan panglima itu terkait menyikapi kondisi bangsa saat ini. Diharapkan wawasan rakyat Indonesia makin terbuka dan sadar tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa.

Editor: Laode Masrafi

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga